ternyata ada banyak hal di luar eksepktasi. temanku, Vina (tentu itu bukan nama sebenarnya) secara mengagetkan memutuskan untuk menerima perjodohan yang digelar oleh pihak keluarganya. aku turut bahagia tentu. aku sudah mengenalnya kurang lebih dua tahun. dari sana aku tahu pasti siapa saja laki-laki yang sempat dan pernah hadir di kehidupannya.
ia perempuan yang sulit jatuh cinta. ia pernah mengatakan bahwa ia juga termasuk perempuan yang tidak terlalu suka berinteraksi dengan makhluk bernama laki-laki. ia akan menjadi gugup dan sedikit kikuk karenanya. ia juga tidak tahu apa sebabnya. kemudian ia memutuskan untuk tidak berinteraksi banyak dengan laki-laki yang disukanya.
pada awal mengenalnya, ia sempat bercerita bahwa ia adalah perempuan yang berani mengutarakan rasa sukanya kepada lawan jenisnya. ia melakukan hal itu semata-mata untuk menenangkan hatinya. setidaknya jika ia sudah menyatakannya, ia akan merasa lega dan lebih mudah bersikap. ia tidak mengharapkan laki-laki itu untuk menyukainya atau membalas perasaannya. INGAT, ia hanya menyatakannya.
ia perempuan yang bisa dibilang sebagai perempuan yang sudah matang. dari segi karir, keuangan, pemikiran, dan pendidikan, sudah dapat dikatakan ia perempuan yang sukses. namun, satu hal, ia memang termasuk perempuan yang sulit membuka kunci hatinya, dan membiarkan orang asing masuk.
hingga pada akhirnya, ia menghubungiku dan bercerita bahwa ia menyukai rekan seprofesinya. usia mereka terpaut beberapa tahun, namun dari segi pengalaman kerja dan kapasitas pemikiran, bisa dibilang mereka sebanding. nama laki-laki itu adalah Andrew. aku sempat beberapa kali secara tidak sengaja bertemu dengannya. ia laki-laki yang menarik. untuk ukuran orang indonesia, ia bisa dikatakan memiliki postur tubuh yang tinggi, berkulit coklat, dengan warna rambut hitam dibiarkan sedikit gondrong sebahu, dan ia memiliki tatapan yang menyejukkan.
mereka bekerja di tempat yang sama kurang lebih selama tujuh bulan. intensitas bertemu bisa dibilang setiap hari. diluar itu mereka (dan teman kantor lain) juga sering mengadakan kegiatan di luar, misalnya makan bersama. awalnya Vina hanya menyukai mata yang meneduhkan hati itu. namun ternyata, senyum Andrew yang manis membuat Vina meleleh juga (hehe..lebay).
setelah kurang lebih dua bulan bekerja bersama, sepertinya Andrew juga memiliki perasaan suka kepada Vina. mereka kadang memberikan perhatian kecil yang tidak disadari oleh teman kerja lainnya. Vina dan Andrew mulai menikmati percikan-percikan rasa yang muncul diantara mereka. hingga pada akhirnya, Vina mengambil sikap.
ia menyatakan apa yang ia rasakan kepada Andrew. dan benarlah, Andrew pun memiliki rasa yang sama terhadapnya. namun, ternyata hubungan ini tidak bisa diperjuangkan. setelah usut punya usut, terdapat perbedaan mendasar jika toh hubungan ini akan dipaksakan. masalah, kepercayaan dan iman sebagai hamba Tuhan. mereka berbeda di mata agama, tetapi apakah mereka berbeda di mata Tuhan? (aku bertanya pada diriku sendiri untuk ini, jadi abaikan saja).
jika memang ingin memaksakan, mungkin bisa. tetapi, aku tidak jamin itu akan berlangsung mudah. perbedaan dan "jarak" yang ada diantara mereka terlalu banyak. kadang, aku juga berpikir apakah ini cinta yang salah atau kepada orang yang salah?. atau ini bukannya salah, tapi hanya tidak tepat?. Tuhan tentu tidak pernah salah. hanya manusia yang mungkin mendramatisir rasa suka yang mereka miliki, memupuknya, mengumpulkan apa yang mereka sebut fakta, dan menyimpulkan bahwa itu adalah cinta.
oke kembali kepada Vina dan Andrew. Vina mengatakan kepada Andrew, bahwa ia tidak ingin lagi ada "eye contact" yang berlebihan diantara mereka. karena itu membuatnya "gila" dan tidak nyaman. disatu sisi karena mereka saling tahu tentang perasaan mereka dan satu lagi karena mereka sadar mereka tidak akan bersama. Andrew mengiyakan permintaan Vina. meskipun aku yakin, tidak akan semudah itu membuang kebiasaan kecil seperti "eye contact" tersebut.
beberapa minggu lalu, Vina menghubungiku. ia mengatakan bahwa ia diminta untuk pulang ke kotanya, karena keluarganya telah menyiapkan calon pendamping untuknya. diluar dugaanku, kali ini Vina menyetujuinya.
aku katakan kali ini, karena sebelum mengenal Andrew, Vina juga pernah diminta menerima pinangan seorang laki-laki pilihan orangtuanya. namun, ketika itu ia menolaknya dengan alasan tidak adanya kecocokan. mereka pernah mencoba berhubungan, namun tidak membuahkan hasil. mereka tidak memiliki chemistry.
aku ikut bahagia jika memang kali ini Vina memutuskan untuk mengikuti kehendak orangtuanya. menerima pilihan keluarganya terhadap calon pendamping hidupnya kelak. semoga memang jodohnya diberikan Tuhan melalui tangan kedua orangtuanya (amin).
aku sedikit bingung akan memberikan judul apa untuk tulisan kali ini. jadi, aku mohon maaf kalau tulisan dan judul tidak nyambung. aku memang payah dalam memberikan judul pada sebuah cerita (hiks). baydewey..saat aku menuliskan cerita ini, dikotanya sana, Vina sedang melangsungkan pertunangan.
(ew).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar