Senin, 15 September 2014

Ketika Cinta Tidak Lagi Sederhana

Kembali dengan base on (my friend) true story. Cerita kali ini tentang Wisnu, Liza, dan Dila. Awalnya Wisnu merupakan kekasih dari Liza. Aku mengenal Wisnu dengan sangat baik, ia laki-laki yang menyenangkan dan aktif pada beberapa kegiatan yang diselenggarakan kampus atau jurusan. Sementara Liza adalah teman satu angkatanku, namun dari jurusan tetangga. Ia adalah perempuan yang pendiam dan tidak banyak bicara. Sempat beberapa kali berinteraksi langsung dengannya dan itu menyenangkan.

Wisnu dan Liza berpacaran cukup lama, kalau tidak salah sudah lebih dari dua tahun. Wisnu yang konyol dan banyak bicara kami (aku dan teman-teman) kira cocok untuk Liza yang pendiam itu.

Aku sangat ingat bagaimana sabarnya Liza memperlakukan Wisnu. Karena kalau boleh aku sebutkan, Wisnu itu tipe laki-laki yang memang berusaha baik kepada semua orang, termasuk perempuan. Tidak jarang Liza cemburu tentunya. Namun, Liza selalu mengerti bahwa Wisnu menganggap mereka semua hanya teman biasa.

Aku termasuk ornag yang secara pribadi "menyetujui" hubungan mereka. Entah kenapa, yang jelas mereka terlihat cocok bersama. Namun, hubungan mereka sekarang sudah berakhir. Wisnu sudah menemukan Dila dan menjalani hubungan tersebut dengan profesional.

Ketika bersama Liza, Wisnu sering sekali menyatakan bahwa ia mencintai perempuan berambut panjang, bersenyum manis itu dengan sederhana. Yang dimaksud sederhana disini adalah, Wisnu tidak menuntut Liza menjadi seperti yang ia ingini, begitu pula sebaliknya. Saling menerima apa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Aku tidak tahu alasan jelasnya, namun sedikit banyak aku salah satu orang yang turut sedih.

Sekarang Dila adalah perempuan yang menempati hati Wisnu. Wisnu mengatakan padaku, bahwa sekarang Dila adalah perempuan yang ia pilih untuk menjadi kekasihnya, jadi dia akan profesional dan tidak akan menyesali hubungannya dengan Liza yang sudah berakhir.

Jika sebuah hubungan berakhir, tentulah kedua belah pihak akan terluka. Akan sangat bijaksana jika kita sebagai seorang penonton tidak menyalahkan salah satu pihak saja. Terlebih lagi jika kita hanya penonton yang tidak paham dengan situasi.

Aku juga kadang menyesal karena pernah menjadi salah satu orang yang ikut "menyalahkan" Wisnu karena berakhirnya hubungan dengan Liza. Menganggap kini Wisnu sudah bukan orang yang sama. Namun, sekarang aku tahu, disini Wisnu hanya bersikap profesional, karena antara Liza dan Dila membutuhkan perlakuan yang tidak sama. Mereka bukan orang yang sama.

"jika kau memilih melepaskannya, lepaskan sepenuhnya. dan tempatkan hatimu untuk menerima ia yang baru bukan meratapi ia yang sudah pergi".

Jumat, 05 September 2014

Dilema Perjodohan Dari Orang Tua

Base on my (friend) story kali ini dari salah seorang temanku yang sangat menggemari drama Korea. Mulai dari yang mendapat rekomendasi dari teman, hingga drama-drama baru yang bahkan pemainnya tidak terkenal sekalipun. Tidak jarang aku mendengar tengah malam ada suara cekikikan dari kamarnya. Itu tandanya ia sedang tenggelam menikmati drama komedi Korea. Atau jika besok pagi ia bangun dengan mata sembab, berarti semalaman ia baru menyelesaikan drama romantisnya.

Dina ini pribadi yang menurutku sangat menyenangkan, ia santai, terkadang cuek dan acuh sekali dengan pendapat orang lain, terkesan tidak peduli malah dengan apapun yang orang katakan tentang dirinya. Ia satu tahun lebih muda daripada aku, tapi kadang pemikirannya sangat jauh lebih dewasa dariku.

Singkat cerita, ternyata orangtua Dina menjodohkannya dengan putra dari teman mereka. Bagas nama laki-laki itu. Usia Dina dan Bagas terpaut cukup jauh. Dina kala itu baru berusia 22 tahun, sedangkan Bagas berusia 28 tahun. Ukuran laki-laki siap menikah dan matang dog tentunya.

Orangtua Dina dan Bagas mengatur pertemuan untuk anak mereka tersebut. Akhirnya diputuskan, mereka akan bertemu pada malam jum'at kliwon mendatang. Bukan karena mereka akan menjalani ritual, hanya kebetulan saja pada hari tersebut ada arisan keluarga.

Dina dan Bagas sepakat untuk menerima perjodohan tersebut. Mereka mengiyakan keinginan orangtua mereka untuk menikahkan mereka kurang lebih satu tahun dari sekarang. Dina dan Bagas ceritanya pada saat itu disebut jadian. Dengan mak comblang kelas kakap, yaitu orangtua mereka.

Bagas ternyata merupakan laki-laki yang pemalu. Ia tidak akan menghubungi Dina jika tidak dihubungi terlebih dahulu. DIa juga tidak akan berinisiatif mengajak Dina bertemu, jika tidak diajak terlebih dahulu. Dina memaklumi hal tersebut karena tahu bahwa Bagas belum pernah memiliki seorang kekasihpun sebelumnya.

Akhirnya Dina mengambil langkah terlebih dahulu. Disamping karena memang Bagas tampan, ia juga tidak ingin diributkan oleh orangtuaya yang seringkali menanyakan kabar Bagas. Pada beberapa bulan pertama sejak awal mereka bertemu, Dina selalu menghubungi Bagas terlebih dahulu. Bertemu dan mengobrol juga sudah menjadi rutinitas mereka akhir-akhir ini.

Namun, dua bulan menjelang hari pertunangan mereka, Dina mengambil sebuah langkah besar. Ia menanyakan kepada Bagas, bagaimana sebenarnya perasaannya selama ini, karena memng Dina merasa tidak adanya chemistry yang muncul antara mereka.

Bagas menyatakan sebenarnya ia hanya menyukai Dina, namun ia belum merasakan bahwa Dina akan menjadi perempuan yang ia inginkan untuk mendampinginya nanti. Dari sanalah akhirnya Dina dan Bagas bersepakatt untuk mengakhiri hubungan mereka.

Yang paling berat sebenarnya bukan mengakhiri hubungan keduanya, namun menjelaskan kepada kedua orangtua mereka. Dina dan Bagas bersepakat secara pelan-pelan akan menerangkan kepada orangtua masing-masing, bahwa mereka tidak menginginkan perjodohan ini dilanjutkan.

Kejadian ini sudah terjadi kurang lebih dua tahun lalu. Dan sejak aku menuliskannya saat ini, aku masih belum mendengar kabar bahwa Dina sudah menemukan laki-laki "pengganti" Bagas. Dina memang perempuan yang menikmati kesendiriannya. Sebenarnya ia tidak sendirian, ia ditemani oleh koleksi drma Korea yang sering diburunya di toko-toko dvd bajakan stasiu Pasar Minggu (haha).

Aku sendiri juga pernah hampir menjalani sebuah perjodohan. Bapak memiliki sahabat karib ketika dulu mereka sama-sama ikut program transmigrasi ke Sumatra. Nama temannya itu om Nurdin. Waktu itu aku baru saja lulus SMA dan akan berangkat ke Bogor untuk kuliah.

Aku dan bapak mengunjungi rumah Om Nurdin, yang menurut cerita bapak sudah hampir lima tahun tidak ditemuinya. Sepulang dari rumah beliau, tidak lama kemudian bapak medapat telpon dari om Nurdin, bahwa ia berniat mencomblangkan putranya yang bernama Eko denganku.

Aku yang pada saat itu masih bocah ingusan tentu menolaknya. Dengan pertimbangan, aku belum tentu akan menikah  dengannya dalam waktu lima tahun lagi. Ibu juga tidak menyetujui usulan kedua bapak-bapak itu. Begitulah hingga akhirnya aku batal mengalami dilema perjodohan (haha).

(ew).

Sama-sama Suka, Belum Tentu Bisa Sama-sama



Kembali dengan my (friend) true story. Yang akan aku ceritakan kali ini tentang dua orang yang saling menyukai, bahkan mungkin telah ada sepotong rasa menyayangi pada hati masing-masing.

Temanku bernama Tiara. Ia perempuan yang sudah cukup lama kukenal, lebih dari enam tahun. Setelah sempat mengalami patah hati karena laki-laki yang dicintainya menika, akhirnya Tara berhasil move on. Ia mulai membuka hatinya untuk orang baru. Meyakinkan bahwa tidak semua laki-laki bersifat sama.

Langit. Ia adalah laki-laki yang berhasil membuat pintu hati Tiara kembali terbuka untuk seorang laki-laki. Langit adalah teman sekantor Tiara. Senior sekaligus tentornya. Laki-laki berdarah blasteran Jawa-Betawi itu meluluhkan Tiara karena senyumnya.

Pada awalnya, Tiara hanya menganggap perlakuan Langit kepadanya candaa saja. Iseng menanyakan Tiara kepada teman dekatnya sempat dilakukan oleh Langit, namun lagi-lagi Tiara menganggapnya angin lalu.

Satu keunggulan yang dimiliki oleh perempuan tentu sudah diketahui oleh semua orang, adalah sensitif. Perempuan cenderung akan sadar jika ada laki-laki yang sedang mendekatinya atau sekedar memperhatikannya. Begitu pula dengan Tiara. Ketika ia mulai sadar bahwa Langit menyukainya, ia perlahan membiarkan pintu itu kembali terbuka.

Rekan kantor yang juga menyadari dan mencium gelagat rasa suka antara keduanya, terkadang ikut pula memberikan dorongan berupa bumbu-bumbu untuk menciptakan percikan rasa antara keduanya. Namun, keduanya masih malu-malu mengakui bahwa rasa suka sudah ada pada hati mereka.

Telah kurang lebih setahun Tiara bekerja bersama Langit. Namun, tidak pula menunjukkan adanya kemajuan dalam hubungan mereka. Akhirnya atas inisiatif seorang teman pun menanyakan perihal perasaan Langit pada Tiara. Yang mungkin bisa dikenal sebagai mak comblang oleh anak-anak zaman sekarang. Kita sebut saja Ale.

Ale yang kebetulan makan siang bersama Langit membuka percakapan.
Ale : sebenernya loe suka nggak sih sama Tiara?
Langit : wah..ada apa ini? kok jadi bahas Tiara?
Ale : udah jawab aja, gimana?
Langit : iya gue suka

Akhirnya Langit menceritakan alasan mengapa ia tak kunjung melanjutkan niat untuk mendekati Tiara. Langit menilai tiara sebagai seorang perempuan matang yang sudah siap untuk menikah. Usia Tiara saat itu baru 24 tahu, terpaut 4 tahun darinya.

Penilaian Langit tersebut timbul karena sikap Tiara selama ini. Tiara terbilang perempuan yang rajin menjalankan shalat baik wajib maupun sunah, serta puasa sunah (senin-kamis). Dari sanalah Langit merasa bahwa, perempuan seperti Tiara tidak untuk dipacari, tapi pasti akan segera meminta untuk menikah jika mereka dekat nanti.

Sementara di sisi lain, Langit masih memiliki mimpi-mimpi lain, menikah masih masuk daftar kesekian. Ia masih berniat untuk menyiapkan semua untuk istri dan keluarganya kelak. Langit ingin saat ia memutuskan menikah nanti, semua sudah siap. Baik sandang, papan, atau kesiapan pangan.

Ale menyampaikan hasil obrolan tersebut kepada Tiara tanpa ditamb-tambahi. Tiara mencoba mencerna maksud Langit. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk bersabar dan ikut memendam rasa sukanya untuk Langit. Sama halnya dengan yang sedang Langit lakukan, memendam perasaannya.

Tiara menyampaikan padaku, bahwa "sama-sama suka, belum tentu bisa bersama-sama". Seperti itulah yang terjadi pada hubungannya dengan Langit. Kudoakan hubungan mereka happy ending dan berakhir ke pelaminan. Suka memang tidak perlu diungkapkan, namun saling tahu perasaan masing-masing namun tidak dapat bersama pun akan menyakitkan.

(ew)

Review Korean Drama Emergency Couple



Jika pada American drama series, Grey's Anatomy berhasil mengetengahkan dunia kedokteran dengan seksi dan menantang. Kali ini Korea mecoba peruntungan tersebut. Ini bukan drama kedokteran pertama yang dibuat oleh Korea. Namun, mendapat respon yang cukup baik dari penggemar setia drama Korea.

Kebiasaan Korea yang cukup menarik dalam menyajikan drama adalah, episodenya tidak terlalu panjang sehingga apa yang mereka sajikan selalu fresh. Drama berjudul Emergency Couple ini berjumlah 20 episode.

Berikut cast beberapa pmeran utama drama tersebut :

Song Ji Hyo :
Artis yang mulai kembali menghiasi layar televisi melalui acara reality show Running Man ini lahir 32 tahun lalu. Sudah banyak drama atau flm dan ikla yang dibintanginya. Artis cantik yang dikabarkan dekat dengan Kang Gary ini memerankan tokoh Oh Jin Hee.

Choi Jin Hyuk :
Aktor dengan tinggi badan 182 cm ini berpera sebaga Oh Cang Min. Wajah tampannya telah menghiasi layar kaca dan menghibur penggemar setianya dalam berbagai jenis/genre drama dan movie. Aktor yang masih berusia 28 tahun ini mencoba beradu akting dengan Ji Hyo pada drama yang ditayangkan awal 2014 ini.

Lee Pil Mo :
Berperan sebagai seorang dokter di rumah sakit tempat Jin Hee dan Chang Min magang. Aktor berusia 38 tahun ini juga sudah melanglang buana dalam dunia pertelevisian cukup lama.

REVIEW :

Chang Min dan Jin Hee memutuskan untuk menikah ketika usia mereka masih sangat muda. Ketika itu mereka belum menyelesaikan kuliah mereka. Chang Min di jurusan kedokteran, sementara Jin Hee pada bagian apoteker. Ketika itu mereka memang sedang di mabuk cinta, tidak mempedulikan tentangan dari berbagai pihak mengnai hubungan tersebut. Mereka menikah di sebuah gereja yang dipenuhi orang yang beribadah, dan meminta mereka menjadi saksinya.

Pernikahan tersebut hanya bertahan satu tahun. Keduanya masih sangat tidak stabil kala itu dan bertengkaran demi bertengkaran memicu tercetusnya kata cerai dari pasangan tersebut.

Setelah lima tahun berpisah, sebuah acara pernikahan mempertemukan mereka kembali. Kekesalan masih tergambar jelas pada mata mereka. Kalimat-kalimat saling ejek meluncur dari mulut mereka. Hingga tanpa disadari ternyata mereka adalah mahasiswa inter di rumah sakit yang sama.

Ternyata setelah bercerai, Jin Hee mengambil program dokter di sebuah universitas. Dengan mentor langsung dari ayah Chang Min. Begitu pula Chang Min, mulai menata kembali hidupnya dengan melanjutkan studinya di sekolah kedokteran.

Pekerjaan yang mempertemukan mereka setiap hari membangkitkan kembali beberapa memori indah mereka. Namun, yang tidak orang lain ketahu adalah bahwa mereka adalah mantan suami istri. Mereka memilih merahasiakannya karena tidak ingin menimbulkan gosip tidak enak di tempat kerja mereka.

Perhatian kecil dari Oh Cang Min kepada Jin Hee, atau sebaliknya memunculkan kecurigaa antar sesama intern. Namun rasa gengsi yang besar masih mengalahkan rasa kasih yang muncul di hati mereka.

Dokter Gook menyadari bahwa ia memiliki perasaan lebih untuk Jin Hee. Ia menyukai Jin Hee, namun takut memulai sebuah hubungan lagi. Karena pernah gagal sebelumnya. Kejadian-kejadian lucu menjadi bumbu yang manis pada drama ini. Mulai dari Chang Min atau dokter Gook yang berebut memeri perhatian kepada Jin Hee, hingga masalah keluarga Jin Hee yang dikemas dengan sangat komedi.

Ibu Chang Min yang sejak lama tidak menyukai Jin Hee memutuskan untuk menjodohkan anaknya dengan putri seorang dokter. Han Na Reum. Yang terntara juga salah satu intern di rumah sakit tersebut. Namun, perasaan Chang Min untuknya tidak melebihi perasaaan dari seorang teman.

Jin Hee bahkan pernah mendapat perlakuan tidak enak dari ibu Chang Min. Jin Hee ditampar di depan umum hanya karena ibu Chang Min takut Jin Hee akan menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya. Padahal saat itu jin Hee hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter terhadap pasiennya.

Kejadian paling memukul yang dialami oleh Chang Min dan Jin Hee adalah ketika ayah Chang Min meninggal. Namun, hal tersebut kembali mendekatkan Chang Min dan Jin Hee. Rumah sakit pun sudah mengetahui bahwa mereka adalah pasangan yang telah bercerai.

Ibu Chang Min melembut hatinya. Tidak lagi membenci Jin Hee. Karena bagaimanapun Jin Hee perah menyelematkan dirinya dan suaminya ketka kritis. Ibu Chang Min merestui jika Chang Min dan Jin Hee akan memulai kembali hidup mereka. Ia tidak mau meyesal seperti ia menyesali kepergian suaminya.

Setelah melalui hari-hari sulit tersebut, akhirnya Chang Min dan Jin Hee memulai hidup baru mereka. Dokter Gook merelakan Jin Hee kembali ke pelukan Chang Min dan tetap menjalani profesinya sebagai dokter di rumah sakit yang sama.

(ew).

Review ATM Error (II) The Series - Masalah Kehamilan Pada Jib

Tulisan ini aku buat terispirasi dari drama Thailand "ATM Error Season 2" yang aku tonton tadi pagi. Drama ATM Error ini dibuat menanggapi bagusnya respon penonton terhadap ATM Error the movie yang ditayangkan sebelumnya.

Dengan pemeran yang sama baik di movie atau drama, penulis cerita mencoba memunculkan beberapa masalah-masalah kehidupan yag diberi bumbu-bumbu pedas ataupun manis. Secara prbadi aku menyukai baik movie atau drama ATM Error ini.

Pemeran laki-lakinya tampan, dipanggil Sua, memiliki seorang isteri cantik bernama Jib. Mereka tinggal di rumah mereka sendiri. Jika pada movie Sua dan Jib merupakan teman sekantor pada sebuah bank swasta, pada drama ini hanya Jib yang masih bertahan di bank tersebut. Kebijakan kantor tidak mengizinkan pasangan bekerja pada kantor yang sama.

Karena posisi jabatan Jib lebih tinggi daripada Sua ketika mereka menikah, oleh karena itu Sua memutuskan keluar. Sua diberi tugas membantu ayah Jib di perusahaan konveksi keluarga mereka. Meskipun akhirnya tidak berjalan baik karena Sua menimbulkan berbagai masalah untuk perusahaan.

Sua yang sangat mengiginkan anak memutuskan untuk mengajak Jib berbulan madu kesekian kalinya. Mereka berlibur ke sebuah pantai indah di Thailand. Namun, kembali semua tidak berjalan sebagaimana direncanakan. Banyak sekali gangguan dari teman-teman mereka. Ada banyak kejadian-kejadian lucu yang terjadi pada liburan tersebut. Mulai dari Pad dan temannya yang tidak sengaja bertemu preman.

Ada pula yang melangsungkan pernikahan secara sederhana di sebuah kuil suci dekat pantai. Mereka juga menyempatkan diri menuliskan satu keinginan terbesar mereka dan berharap dewa akan mengabulkannya kelak. Sua menuliskan, "Aku ingin Jib hamil". Terlihat sekali bahwa ia sangat menginginkan seorang anak.

Setelah liburan selesai, Jib dan Sua membuat kesepakatan bahwa mereka akan memulai program memiliki anak. Dengan syarat, jika nanti anak tersebut lahir, salah satu harus berhenti bekerja dan tinggal di rumah mengurusnya.

Sua yang menyadari bahwa nanti diperlukan tambahan biaya untuk anak mereka mulai mecari-cari pekerjaan. Dan akhirnya mendapatkannya. Bersamaan dengan munculnya tanda-tanda bahwa Jib hamil.

Karena Jib merasa kurang enak badan, ia memeriksakan dirinya ke dokter. Sua yang ketika itu sedang melakukan sebuah interview tidak dapat menemaninya. Jib sangat kaget ketika mendengar dokter mengatakan bahwa ia memiliki masalah dengan kesuburannya alias mandul. Ia pulang ke rumah dengan hati sedih. Tidak berani menghancurkan mimpi suami tercinta yang begitu besar. Sementara ia menyembunyikan hal tersebut dari Sua.

Awalnya Jib bukan tidak menginginkan anak, ia hanya merasa belum siap saja. Namun, ketika bencana itu datang, ia baru menyadari betapa ia pun diam-diam menginginkan seorang anak.

Hal ini mungkin banyak dialami oleh pasangan di luaran sana. Ketika mereka benar-benar menginginkan seorang anak, justru cobaan yang muncul. Di lain tempat, ada pula yang dengan kejamnya membuang darah daging mereka sendiri hanya karena mereka merasa hal tersebut didapat dari sebuah kesalahan.

Perempuan manapun tentu mendamba menjadi seorang ibu, meskipun tidak semua perempuan terlahir karena hal tersebut. Akan sangat menyakitkan begitu menyadari bahwa tidak akan ada seorang bayi yang lahir dari rahimnya. Sementara diluaran sana ada perempuan yang mendapatkan bayi meskipun tak menginginkannya. Miris memang. Sangat timpang dan berbanding terbalik.

Semoga seluruh perempuan di dunia bisa mejadi seorang ibu. Meskipun tidak dari rahimnya sendiri, mungkin bisa dengan mengadopsi atau mengangkat anak dari orang lain. Dan untuk perempuan yang "tidak menginginkan" seorang anak yang kalian anggap terlair karena sebuah kesalahan, ingat bahwa anak tersebut tidak mempunyai kesalahan. Bukan salah mereka terlahir. Bukan keinginan mereka terlahir dari rahimmu. Sadari bahwa ada banyak perempuan seperti Jib yang bersusah payah mendapatkannya.

"ibu bukan hanya orang yang melahirkanmu. tetapi juga ia yang berhasil mengajarkanmu hal baik dan hal buruk yang dulu sukar kau bedakan".

Aku tidak berpengalaman tentang masalah kesuburan pada perempuan. Yang aku tahu, beberapa pasangan terkadang menjalani pengobatan baik herbal ataupun konsultasi rutin dengan dokter. semoga perempuan-perempuan tersebut dimudahkan dalam memiliki keturunan dan dilapangkan hatinya untuk bersabar. Tidak lelah berusaha dan berdo'a kepada Tuhan.

(ew).

Rabu, 03 September 2014

Alasan Perempuan Memaafkan Perselingkuhan Kekasihnya

Kembali dengan base on (my friend) true story. Kisah kali ini tentang temanku yang bernama Maya (tentu ini nama samaran). Maya memiliki kekasih, sebut saja Anto. Kalau aku tidak salah, mereka telah berpacaran kurang lebih empat tahun. Bukan waktu yang singkat tentunya untuk umur sebuah hubungan. Malah sempat terdengar kabar bahwa mereka akan melangsungkan pernikahan dalam waktu kurang dari tiga bulan lagi.

Namun, ada beberapa hal yang justru menggagguku, yaitu Anto itu termasuk laki-laki yang doyan mendua hati. Kalau dari segi tampang, dia tidak terlalu tampan, standar (penilaian pribadiku setelah bertemu langsung). Tetapi, Anto tahu bagaimana cara memperlakukan Maya dengan manis. Maya mempertahankan Anto bagaimanapun caranya.

Berikut beberapa alasan yang membuat perempuan cenderung memaafkan kekasihnya karena kesalahan baik akibat perselingkuhan maupun kesalahan lainnya :

1. Takut sendirian

Hal ini menjadi semakin sulit karena perempuan tidak menyukai kesendirian. Mereka sangat suka memiliki seseorang yang selalu ada disampingnya meskipun tidak untuk setiap waktu. Bisa dibilang ketergantungan mungkin, namun dalam versi yang lebih halus.

Karena sudah terlalu sering bersama pasangan, beberapa perempuan bisa saja akan merasa takut sendirian. Misal tidak bisa menyelesaikan hal-hal khusus sendiri, atau tidak terbiasa sendiri.

2. Percaya bahwa pasangan akan berubah

Jika pasangan sudah meminta maaf, apalagi dilengkapi dengan wajah penuh rasa bersalah, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, maka perempuan akan memaafkan kesalahan tersebut. Apalagi jika mereka termasuk kedalam beberapa pasangan yang jarang bertemu. Ketika sudah bertemu biasanya perempuan tidak akan ingat lagi apa yang menyebabkan ia marah kepada pasangannya tadi.

3. Terlalu cinta
Kalau sudah bicara tentang cinta, memang tidak semua orang setuju bahwa "kalau sudah urusan cinta, secerdas apapun seseorang maka ia akan menjadi luluh dan bodoh". Terlalu cinta memang kalimat yang sering didengar dari mulut perempuan (termasuk Maya) yang mudah memaafkan kesalahan pasangannya.

4. Khawatir tidak menemukan yang lebih baik
Bisa jadi pula perempuan itu trauma. Trauma yang dimaksudkan adalah, ia pernah melepaskan seseorang yang "kurang baik" untuknya dan menemukan orang baru, Namun, ternyata orang baru tersebut tidak jauh lebh baik dari pasangan sebelumnya bahkan lebih buruk. Sempat ada yang menyebutkan bahwa "kau tidak akan menemukan orang paling baik sedunia, namun kau bisa menjadikan orang yang sedang bersamamu menjadi yang baik bagimu", begitu kalau tidak salah.

Empat hal di atas tentu tidak dialami oleh seluruh perempuan di dunia. Sering sekali jika aku sudah mengobrol dengan Maya, tak jarang aku mengatainya "bego" karena terlalu mudah memaafkan Anto yang doyan menduakannya. Nih ya, aku kasih bocoran, kalau Anto sedang dekat dengan perempuan lain, biasanya dia aka acuh dan tidak mempedulikan Maya. Perhatiannya akan berkurang dari biasanya dan akan semakin jarang membalas pesan Maya.

Kalimat Maya yang tidak bisa aku lupa adalah "aku mungkin memang bego, tapi aku nyamannya sama dia, maunya dia". Kalau sudah begitu biasanya aku tidak berkomentar lagi, menyerah. Dan menyadari, ternyata terkadang akupun bersikap naif dan bego seperti Maya (hahaha).

(ew).

Selasa, 02 September 2014

Mengapa Laki-laki Tidak Suka Memajang Foto Bersama Pasangan di Media Sosial

Masih base on (my friend) true story. Kali ini, seorang teman SMA saya, bernama Rendi. Awal ceritanya bermula ketika dia mengomentari foto pada profil BBM saya, yaitu foto saya bersama laki-laki saya.

Berikut percakapan kami secara singkat tersebut :

Rendi : memang perempuan gitu ya? suka memamerkan fotonya bersama laki-lakinya?
Aku : aku nggak tahu perempuan-perempuan lain, tapi kalau aku memang suka
Rendi : pacarku nggak pernah ngelakuin itu
Aku : mungkin dia emang bukan cewek kayak aku
Rendi : memang kenapa harus dipajang foto berdua?
Aku : kalau aku secara pribadi sih, ingin semua orang tahu kalau dia pacarku. jadi, kalau ada cewek di luaran sana yang keganjenan, mikir dua kali.
Rendi : kalau pacarmu mau selingkuh ya selingkuh aja, nggak perduli semua orang taunya dia pacar kamu
Aku : yang pentingkan aku sudah usaha. karena aku pikir, selagi dia pacarku ya dia punyaku, kalau dia niat cari yang lain, mungkin emang kontraknya sudah habis
Rendi : tapi aku secara pribadi nggak suka kalau cewekku pajang foto kami
Aku : karena kamu jadi nggak bisa caper ke cewek lain? haha..
Rendi : (read)

Berdasarkan hasil cerita dari beberapa teman perempuanku, yang kebetulan semuanya suka "pamer" foto bersama laki-lakinya. Sebenarnya seperti yang sudah aku tulis tadi, bukan bermaksud untuk memamerkan kepada semua orang siapa laki-lakinya, namun lebih ke pencegahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa mungkin bukan hanya satu perempuan saja yang menyukaimu sebagai laki-laki. Masih ada banyak perempuan lain yang berpotensi menyukaimu.

Alasan lainnya ya karena pada dasarnya perempuan itu memang suka "memamerkan" apa yang menjadi miliknya. Memang menurut kalian apa alasan perempuan suka selfie?, atau memfoto hasil masakan atau karya yang ia buat. Ya karena perempuan suka sekali dengan sebuah pengakuan. Disamping itu, perempuan juga menyukai sebuah apresiasi.

Tetapi, aku tidak akan menyalahkan pendapat Rendi yang menyatakan bahwa memajang foto bersama pasangan bukanlah hal penting. Berikut beberapa hal yang mungkin menyebabkan laki-laki tidak suka memajang foto bersama pasangan :

1. Laki-laki menganggap hal tersebut berlebihan
2. Laki-laki merasa mesra antar pasangan tidak perlu ditunjukkan ke khalayak ramai
3. Pada dasarnya laki-laki sangat jarang update foto bahkan wajah pribadi mereka sendiri

Alasan lainnya tidak dapat aku pikirkan. Sejauh yang Rendi sampaikan, hanya tiga hal di atas yang bisa aku simpulkan.

Jika tidak dijelaskan dengan baik, kadang perempuan justru ngambek dan marah, memicu pertengkaran antar pasangan. Sebagai laki-laki, sebaiknya kalian menjelaskan hal tersebut dengan pintar agar perempuan mengerti dan menerima alasan kalian tersebut. Agar perempuanmu tidak berprasangka bahwa kalian laki-laki tidak mau memajang wajahnya karena sedang menjaga hati perempuan lain alias selingkuh.

Karena memang tidak jarang juga laki-laki yang tidak bersedia memperkenalkan kekasihnya ke khalayak agar dapat bergerilya mendekati perempuan lain. Memang tidak semua laki-laki demikian, hanya menyampaikan opiniku dan beberapa teman perempuan yang merasakan hal sama.

Untuk Rendi, bersyukurlah jika perempuanmu tidak memajang foto kalian di media sosial. Tapi, gimana kalau ternyata dia sedang menjaga hati laki-laki lain? (hahahaha..).

(ew).