Senin, 26 Januari 2015

Ketika Mamak Minta Cucu

Secara jarak, aku tinggal jauh daru kedua orangtuaku. Asliku emang dari sebuah kota kecil di daerah Sumatra, tapi karena tujuh tahun lalu aku ngelanjutin kuliah, aku hijrah ke kota hujan, Bogor. Pertama seumur-umur jauh dari keluarga, dengan posisi aku cuma kenal sama beberapa teman yang kebetulan satu daerah dan ngelanjutin ke kampus yang sama.

Aku masih inget, malem itu hujan pertama yang aku alami di Bogor. As always, hujannya Bogor nggak akan lengkap kalau nggak pake petir/geluduk/gemuruh atau apa lagi itu namanya. Malem itu aku nangis kenceng, karena baru sadar mamak nggak ada disampingku pas petir "teriak" kenceng di langit. Yup..aku anak umur 17 tahun yang (waktu itu) kalo ada petir/geledek bakal nyari mamak dikamarnya, dan ngumpet diketeknya, karena kurasa itu tempat paling aman di dunia ini (haha). Oh iya, sampe lupa, mamak itu sapaan untuk ibu di kampungku, asal katanya dari mama.

Sekarang, sudah tujuh tahun berlalu dari malam itu. Aku sudah lulus dari kuliah sejak tahun 2012 lalu. Beberapa hari yang lalu, pas aku lagi ngobrol via SMS sama mamak, tiba-tiba mamak bilang "pengen punya cucu". Aku yang notabene belum pernah denger kalimat itu, kaget. Aku perempuan 25 tahun, tinggal di perantauan, punya pekerjaan, punya pacar, terbilang jarang pulang ke kampung halaman, dan mamak minta cucu. Artinya?.

Iya, mamakku mengisyaratkan sudah waktunya aku menikah. Yakan nggak mungkin juga aku ngasih mamak cucu tanpa sebelumnya ngasih beliau mantu, ya dong?.

Aku sebenernya belum pengen menikah. Oke, mungkin maksudku, aku pernah ingin menikah, tapi masa itu sudah lewat dua tahun lalu. Terus, apa tega aku bilang gitu ke mamak?. Misal, "nanti-nantilah mak, kalo udah waktunya juga nikah". Atau, "iya sabarlah mak, nanti juga aku nikah kok". Aku cuma jawab, "iya mak, doakan ajalah ya". Dan mamakku balas SMS-ku lagi dengan "tahun depan ya, keburu mamak tua, nggak kuat jagain cucu". Kalo udah gitu, bisa apa coba?. Lagi-lagi cuma bisa jawab, "iya mak, doakan aja ya".

Mungkin karena dulu mamak dinikahi bapak saat masih muda. Pas usia beliau baru 18 tahun. Pas beliau 20 tahun, sudah menetek-i dan mengganti popokku. Sudah lewat lima tahun dari usianya waktu itu. Tapi, aku suka cara mamak yang bertanya dengan tersirat dan tidak langsung ke intinya. Karena mamak yakin, aku akan mengerti bahasa paling sederhana yang ia ucapkan sekalipun.

Kalo diingat-ingat, mamak itu bisa dibilang adalah orang di rumah kami, yang nggak pernah bilang nggak kalo aku minta apapun. Perempuan yang ngedekor ruang tamu di rumah dengan perabot/aksesoris serba merah itu selalu berusaha jawab "iya" kalo aku minta sesuatu. Entah itu ada atau nggak, bisa atau nggak dipenuhi, yang penting iya dulu.

Beliau juga yang berusaha ngeyakinin bapak, buat ngelepas aku hidup dan kerja di kota hujan ini. Mamak pernah berpesan, "apa-apa itu tergantung yakin atau nggak, kalau belum yakin mending nggak usah dijalani daripada setengah-setengah". Itu pas aku "memaksakan" diri buat ikut kata bapak dan menerima pekerjaan yang dipilihkan bapak buatku.

Aku pernah nggak sengaja beberes rumah, dan nemuin buku hariannya. Disana ketulis jelas sebait kalimat, yang bunyinya "sumber kekuatanku adalah anak-anakku". Spontan aku nangis. Ternyata perempuan yang selalu kuat dan tersenyum di depan kami, adalah perempuan yang menganggap aku dan adikku adalah sumber kekuatannya menjalani kehidupan ini.

So, doakan aku ya biar bisa segera memberi mamak mantu, kemudian cucu.


"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Rabu, 07 Januari 2015

3 Jam Menuju Puncak Prau (2656 mdpl)

hallooo..setelah setahun (karena ini udah 2015) nggak nulis, akhirnya punya bahan lagi nih buat ngoceh. kali ini seputar perjalananku bareng 15 orang teman lainnya ke gunung Prau. 14 orang dari total pasukan adalah orang-orang yang kerja di bank BNI Kota.

mungkin memang belum banyak yang familiar dengan gunung tersebut, kebukti dari yang nanya "itu dimana?". nah, jadi sodara-sodara, gunung Prau ini letaknya di Wonosobo, Jawa Tengah. sebelahan/sodaraan sama dataran tinggi Dieng ya. bisa dibilang satu komplek deh, cuma beda puncak.

kami berangkat tanggal 24 desember, kereta serayu jurusan akhir stasiun Purwekerto. harga tiketnya waktu itu (masih subsidi) Rp. 35.000. berangkat dari Jakarta Kota jam sembilan malam, dan sampai di Purwekerto jam 8 atau 9 pagi (aku lupa persisnya). yang jelas karena kereta ekonomi, jadi ya nyampenya belakangan, mempersilahkan yang keren-keren (eksekutif/bisnis) lewat duluan.

oke, lets the journey begin!!.

sampai di stasiun Purwekerto, mas Adoy (koordinator trip kali ini) sudah menyiapkan 2 angkot carteran yang akan menemani kami selama disini. pak Wawan ini sopir angkot yang kebetulan aku tumpangi, kocak gitu orangnya. pede abbiis dengan kehandalannya menaklukkan jalanan berbatu dan tanjakan itu. dan ini pasukan angkot 2 bisanya cuma ngompor-ngomporin pak Wawan doang, ckckck.

(maksain selfie diangkot : mas Opat, mas Catur, mas Adi, Aku & mas Mul)

kami beruntung karena mas Gian yang asli Purwekerto merelakan rumahnya untuk kami jadikan base camp dadakan pagi itu. kami dihidangi mendoan khas Purwekerto yang piringnya selalu direfil, soto khas Sokaraja, gethuk goreng, dan aneka cemilan, plus teh dan kopi hangat. mayaaann...hemat biaya makan siang, haha. rezeki anak-anak soleh.

jam 11.00 kami mutusin buat ngelanjutin perjalanan ke Wonosobo. setelah perut full tank tentunya, thanks to mas Gian's family, hehe. perjalanan ke Wonosobo kurang lebih makan waktu 3 jam. panasnya Purwekerto mulai berangsur berubah jadi sejuk pas angkot kami mulai masuk ke daerah Wonosobo.

karena masih siang, kami menyempatkan diri main ke dataran tinggi Dieng terlebih dahulu. ke kawah Sikidang dan ke komplek Candi Arjuno. kena tambahan biaya masuk lagi untuk masing-masing objek wisata itu, tapi karena rombongan jadi dapet potongan harga.

(ini pasukan, minus Aku yang motoin, & mas Gian)

(mas Putra, mas Pundi, mas Adoy, mas Panji, mas Apoy, mas Ruslan, kak Pandan, Aku)

(selfie sukaesih di depan kawah Sikidang)

(masih edisi selfie di depan kawah Sikidang)

(selfie everywhere yeuh)

(mas Adoy, Aku, kak Pandan, mas Opat)

(selfie di depan Candi Arjuno)

jam 5 sore kami menyudahi tur hari itu dan milih buat sedikit turun ke daerah Patak Banteng untuk mencari homestay/penginapan. Patak Banteng kebetulan merupakan tempat dimana base camp untuk pendakian ke gunung Prau berdiri, jadi keputusan kami untuk mencari homestay disana dirasa pas. kami mendapat homestay seharga 500 ribu untuk menginap satu malam. fasilitasnya cukup lengkap, yang jelas nyaman buat istirahat ke-16 manusia ini.

karena momen ngumpul memang jarang-jarang, biasanya kalau udah gini pasukan bakal duduk sambil ngopi dan main gaple atau kartu. ada poker warior dan gaple warior malam itu. aku milih pokeran aja, karena nggak paham gimana main gaple. jam 23.00 aku sama kak Pandan mutusin buat istirahat dan pindah tidur ke kamar kami. menyingkir dan menyelamatkan diri dari sarang penyamun, hehe.

jam 04.00 pagi buta mas Adoy udah gedor-gedor kamar nyruruh bangun. karena sudah diniatin mau liat sunrise di bukit Sikunir, aku dan kak Pandan dengan semangat bangun, bebersih, dan sudah duduk manis depan tv sembari nyeruput teh anget buatan para lelaki. tapi ya namanya juga lelaki, jam 5 deh baru bener-bener pasukan udah pada siap. matahari geh udah tinggi, udah nggak berharap lagi ketemu sunrise ini mah.

(view milky way dari bukit Sikunir)
(nggak dapet sunrise, tp dapet selfie)

jalur mau ke puncak Sikunir padat merayap berasa jalanan jakarta. macet nggak cuma di kota ya gais, di gunung juga bisa. banyakan yang pada turun sih ya karena memang mataharinya malu-malu plus ketutup kabut yang cukup tebel, dan kami kesiangan. tapi, okelah minimal nyampe puncak Sikunir dan bisa foto-foto hamparan hijau bukit disebelah-sebelahnya.

jam 08.00 pasukan turun. disamping karena mataharinya memang nggak kelihatan, kami juga masih harus ngelanjutin perjalanan ke puncak Prau, khawatir kesiangan dan keburu hujan.

jam 10.30 kami mulai bergerak meninggalkan base camp Patak Banteng, setelah sebelumnya mengurus perizinan pendakian, dan melengkapi logistik. cuaca masih mendung-mendung syahdu gitu, dingin, adem, enaknya buat tidur ini mah, hehe. menurut mas Adoy yang udah duluan kesini bulan mei lalu, ada 4 pos yang harus dilalui baru sampe puncak. perjalanan normal memakan waktu 3 jam.

(view dari track menuju pos 1 mt.Prau)

(view desa dikaki gunung Prau)

(track dari pos 1 ke pos 2)

(track dari pos 2 ke pos 3)

(masih jalur menuju pos 3)

(track menuju pos 4)
(track pos 4 menuju puncak)
melewati perkampungan, kebun kentang milik petani setempat, dan akhirnya jalanan mulai menanjak dan masuk ke areal hutan. pemandangannya Subhanallah. ini salah satu kenapa aku suka naik-naik, semua kelihatan jelas kalau dilihat dari atas. rumah-rumah penduduk jadi mirip rumah liliput, kecil-kecil nggak beraturan, Telaga Warna dan kawah Sikidang juga kelihatan kecil dari atas sini.

setelah sempat beristirahat beberapa kali, akhirnya jam 13.30 aku dan beberapa teman sampai duluan. kami terbagi ke beberapa kelompok, yang paling belakang yang bawa tenda, karena berat jadi jalannya lebih santai. begitu sampai, kami langsung mendirikan 1 tenda yang dibawa mas Apoy. memilih lokasi yang pas di depannya Sindoro-Sumbing, berharap besok langit bersahabat dan matahari dengan cantiknya bersinar (amin).

(bunga Daisy punyanya mt.Prau)
kurang lebih jam 16.00 sisa pasukan yang jalan pelan sampai juga (Fathan, mas Pundi, mas Catur, mas Panji, dan mas Adoy). ternyata salah satu teman drop dan kelelahan. sore itu aku, kak Pandan, mas Catur, mas Pundi, dan mas Adoy jadi petugas dapur umum. masak mi rebus, omelet sosis, dan susu jahe untuk para pasukan.

setelah selesai makan dan beribadah, karena cuaca terlalu dingin untuk melakukan kegiatan luar, kami masuk tenda masing-masing dan milih buat main poker (lagi). cuma bertahan sampai kurang lebih jam 20.00, akhirnya udara dingin maksa pasukan poker bubar dan pada tidur. tidak demikian dengan gaple warior yang masih bertahan di tenda sebelah (mas Adoy, mas Panji, mas Pundi, mas Apoy, dan kak Pandan).

jam 5 subuh aku sudah bangun. nebeng solat berjamaah di tenda sebelah (anak-anak Bekasi), terus nungguin sunrise setengah kedinginan di depan tenda. tapi sampe jam 6 pun tuh matahari nggak muncul-muncul, cuma ada sih bayangannya dikit, tapi langit asli berkabut parah. sedih.

entah kenapa, pagi itu para lelaki sedang berbaik hati, mereka nggak sibuk minta dimasakin, tapi malah inisiatif masak sendiri, good boy(s).

(Sindoro-Sumbing)

(bahagianya si Sindoro-Sumbing nongol bentaran)

(hei universe)

setelah beres sarapan dan bebenah tenda, jam 9.30 kami turun gunung. mulai gerimis dan cuaca masih aja kabut. frustasi nungguin matahari yang tak kunjung muncul, jadi lebih baik turun gunung aja. sisa hujan semalam bikin jalur jadi becek dan licin. harus lebih hati-hati. memang biasanya waktu yang dibutuhkan buat turun itu lebih singkat, tapi kehati-hatian ekstra itu lebih dibutuhkan pas turun ini.

kanan-kiri jalur sempet ngelihat ada yang longsor dan ekstrim gitu licinnya. batu juga sempat ada yang runtuh, beruntung semua baik-baik aja, kecuali mas Apoy yang kakinya sempet kena "serempet" sama bongkahan batu yang jatoh tadi. dan nggak ada satupun dari kami yang nggak kepleset di jalanan, tapi Alhamdulillah nggak ada yang luka atau cedera, lecet-lecet dikit ada lah ya.

(sisa-sisa semangat untuk selfie)

(Aku, Fathan, mas Pundi, mas Apoy)

jam 11.30 kami sudah sampai di Patak Banteng. beristirahat sebentar, kemudian kami melanjutkan perjalanan. ceritanya sih mau ke Batu Raden, mainan air panas. tapi apa daya, entah kenapa perjalanan balik ke Purwekerto jadi lebih panjang daripada pas berangkat. anak-anak pada tumbang dan mual. pak Wawan makin ugal-ugalan nyetirnya, entah kesambet setan apa dan dimana.

Batu Raden batal, akhirnya mampir lagi ke rumahnya mas Gian buat bebersih. karena kereta ke Jakarta berangkat jam 18.50, jam 18.00 kami semua udah cabut dari rumah mas Gian. dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai juga di stasiun, beruntung nggak ketinggalan kereta. kan nggak lucu ngegembel nungguin dapet kereta lainnya, 16 orang pula.

di dalam kereta pasukan pada tepar dan pada diem. tidur dan istirahat, cerita-cerita ringan bentar kemudian tewas. lelah amat kayaknya ya, hehe. benar-benar 3 jam menuju puncak yang nggak bisa disepelekan.

kereta sampai di Pasar Senen kurang lebih jam 01.00 dini hari. karena Bogor itu jauh, aku akhirnya nginep dikosannya kak Pandan, dan pulang besok paginya.

aaaa..masih pengen banget liburan. masih pengen bengong nggak jelas gitu di gunung, nungguin matahari terbit, atau deg-degan turun gunung karena licin. well..mari kembali ke realita Enn, dan siapkan perjalanan berikutnya. kemana lagi kita??.

NB : sebaiknya memang ke Prau kalau cuaca bagus kaalu mau dapat banyak bonus pemadangan Sindoro-Sumbing, atau golden sunrisenya Sikunir.

(terimakasih BNI Kota atas liburannya, see u next trip)

(ew).

Rabu, 10 Desember 2014

Tentang Waktu

coretan kali ini bukan cerita, tapi lebih ke beberapa diksi-diksi yang memakai kata WAKTU. kebetulan semua karyaku, tapi kalo ada kesamaan dengan hasil karya siapa saja, aku mungkin mengingatnya karena membacanya di suatu tempat. oke, mari bermain "waktu"..

"aku belajar mencintai waktu. karena ia mengajarkan bahwa luka memang menyakitkan, namun bukan berarti tidak dapat disembuhkan"

"waktu memang begitu ajaib. ia mampu merubahmu, membalikkan perasaanmu, atau membuatmu rela menunggu"

"waktu mengajarkan bahwa apa yang sudah kau lepaskan, terkadang tidak layak untuk kau minta kembali"

"waktu memberiku waktu untuk melepaskanmu, menemukannya, dan memulai hal baru"

"waktu mengajarkanku, apakah aku harus menunggu atau melepaskan"

"waktu terkadang membuatku mengerti bahwa menunggu adalah cara terbaik untuk mencintaimu"

"dimana aku bisa melihatmu tersenyum ke arahku, kuserahkan kepada waktu"

"waktu dimana aku berlari di antara hujan, adalah waktu ketika aku tahu bagaimana rasanya rindu"

"waktu dan rindu adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan"

"rindu membuatku paham, bahwa menunggu berarti memang memercayakan semuanya kepada waktu"

"senja dan kamu adalah dua rindu. yang terjadi pada satu waktu".


(ew)

Rabu, 03 Desember 2014

Tanggung Jawab Seorang Laki-laki Itu Lebih Berat


selamat hari kamis semuanya. waktu memang cepat sekali berlalu ya. baru sekali aku merasakan dahsyatnya kemacetan di hari senin, eh ternyata besok sudah jum'at. jangan bilang kalian tidak bahagia ya karena besok jumat? (:p).

ini hasil obrolan singkat kemarin dengan beberapa teman satu ruangan, ditempat aku bekerja. awalnya obrolan terjadi karena aku tidak sengaja nyeletuk, "beban laki-laki itu berat ya. mereka harus bekerja, terkadang harus lembur untuk uang tambahan, kalau sedang dengan pacarnya mereka (naluriah) harus mengeluarkan biaya lebih, dan mereka juga harus memikirkan tabungan untuk masa depan. belum lagi kekhawatiran mereka ditolak oleh keluarga perempuan ketika melamar nanti".

oke, mungkin tidak bisa disebut celetukan karena panjang sekali (haha). ya, anggap saja itu isi kepalaku yang random hari itu.

Reza, teman seruanganku bertanya, "kenapa perempuan harus PD kalau ada yang mendekati?". aku dengan ringan hanya menjawab, "karena laki-laki yang mendekatimu pasti sadar akan kualitas yang kamu miliki". dan semua langsung bersorak, haha aku sudah seperti mbak-mbak di acara talk show yang sedang memberikan closing statement di akhir acara.

ya aku sendiri mulai sadar. laki-laki memang dituntut berpikir lebih. seperti yang tadi sudah kubilang, satu sisi mereka memang berniat menjalin hubungan dengan seorang perempuan secara serius, sisi lain ia juga harus memikirkan penerimaan keluarga perempuan ketika ia mengajukan lamaran untuk anak mereka. nah kalau perempuan? oke jadi akan aku buatkan beberapa beban "moral" dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan ya..


PDKT
ketika masa PDKT atau pendekatan, biasanya perempuan memang lebih banyak menunggu aksi dari laki-laki. eemm..nggak boleh terlalu agresif, mungkin itu bahasa lainnya. nah, bayangkan mereka (laki-laki). satu sisi mereka harus berusaha mendekatimu, sisi lain dia harus siap jika ditolak, dan sisi lainnya lagi mereka tidak boleh terlihat memberi harapan palsu kepada kalian. berat kan?.

PACARAN
sudah lewat masa pacaran, ada yang bilang biasanya perempuan yang awalnya suka dandan jadi nggak suka dandan, karena ngerasa pasangannya sudah menerimanya sepenuh hati, paham kekurangannya, dan mau menerima apa adanya. laki-laki?. mereka yang sudah sibuk bekerja harus meladeni drama jika perempuannya ngambek/marah karena hal sepele, lembur demi uang tambahan, mikirin waktu untuk ketemuan, dan pas ketemuan mereka secara naluriah (karena mereka laki-laki) harus menanggung biaya ngapel/ngedate kalian. hayo, beratan mana tanggungannya?.

MELAMAR
nggak bisa dipungkiri semua berkeinginan hubungannya maju ke langkah yang lebih serius bukan?. kalau perempuan sih enak, bisa nanya, "kamu kapan ngelamar aku?". hellooo..jangan anggap laki-lakimu (kalau dia memang benar menyayangimu) tidak memikirkannya ya. mereka berpikir, pasti. hanya mereka sebagai makhluk bernama laki-laki itu tidak mau menunjukkan "pikirannya" kepada orang lain. mereka diam-diam akan mulai berpikir untuk biaya pernikahan, tanggapan dan penerimaan kedua orangtuamu, dan rencana-rencana setelah nikah yang kadang tidak terpikirkan oleh perempuan.

PENERIMAAN KELUARGA PASANGAN
laki-laki yang baru pulang dari rumah orangtua kekasihnya bisa saja menjadi "galau" (kalau kata anak zaman sekarang). hal itu lumrah. karena bisa saja penerimaan keluarga perempuan tidak seperti yang ia bayangkan. biasanya orangtua perempuan akan lebih selektif dalam memilih calon yang nantinya akan menjadi pendamping hidup putri mereka. bisa jadi karena suku, pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, sikap, dan masih banyak lagi. kalau perempuan?. sejauh yang aku rasakan sih, jauh lebih ringan. perempuan merasa khawatir dengan status sosialnya. kaya-miskin. terlebih lagi jika laki-lakinya adalah dari keluarga berada, perempuan biasanya akan minder karena hal itu. selebihnya ia lebih percaya diri.

aku tidak akan membahas bagaimana tanggung jawab keduanya ketika menikah ya, karena aku tidak mau melangkahi senior-senior yang sudah menikah duluan (haha :p).

secara garis besar beban laki-laki lebih banyak dan complicated bukan?. jadi, sebaiknya, kalau kamu memang mau menjadi kekasih yang baik, bantulah laki-lakimu setidaknya dengan tidak bersikap terlalu drama. jangan mendesaknya untuk buru-buru menikahimu, jika kamu tidak ingin ia berpikir untuk pergi. dan hargailah ia yang kalau memang terpaksa harus bekerja lebih di luar weekdays, karena bisa jadi itu semua ia lakukan untuknya. tidak ada pasangan yang ingin berjauhan dan tidak bertemu dengan waktu lama. kegiatan dalam sebuah hubungan kan tidak melulu itu-itu saja kan?.

(ew).

Kamis, 27 November 2014

Social Space (Ruang Sosial)


selamat hari jum'at masyarakat. iya aku tahu, weekend is coming. mari kita bergembira menyambutnya. eits..nanti dulu, memangnya kenapa kalau weekend?. toh sama saja sama hari biasanya, nggak ada yang ngapelin atau ngajakin pergi kan mblo?. bukannya malah enakan weekdays? jadi ada kegiatan gitu (:p). baiklah, bukan itu bahasan kita hari ini. jadiiiii..ceritanya kali ini mau sedikit menulis tentang "social space". gegayaan gitu jadi anak yang ngerti sosial, ini mah nggak lebih dari sekadar ngoceh saja kok.

kalau menurutku, dalam berhubungan sosial, baik itu pertemanan, pasangan, rekan kerja, atau sekadar kenalan memiliki batasan-batasan space/ruangnya masing-masing. tentu tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lainnya. hal mendasar yang mempengaruhi hal tersebut biasanya adalah kedekatan personal dari pelaku sosial itu sendiri.

sebelumnya, aku akan menjabarkan terlebih dahulu apa perbedaan masing-masing hubungan yang tadi kusebutkan :

1. teman

menurutku, yang bisa disebut teman itu mulai dari orang yang dekat dalam hal tempat tinggal, sekolah, kerja, atau komunitas. dengan kata lain, yang disebut dengan teman adalah hubungan yang terjalin karena kesamaan suatu hal, bisa saja hobi atau lingkungan tinggal. yang di luar dari itu mereka tidak akan melakukan komunikasi intensif.

2. pasangan

pasangan bisa saja kekasih atau suami-istri. mereka terhubung karena kedekatan dan kesamaan komitmen. bedanya kalau pasangan suami-istri mereka sudah terikat dalam ikatan pernikahan, tidak demikian dengan pasangan kekasih. mereka masih menuju pada tahap tersebut, dan masih mungkin-mungkin saja jika pada satu ketika komitmen mereka lepas.

3. kenalan

kenalan ini statusnya lebih di bawah teman. jika teman terbentuk karena keinginan pribadi, kalau kenalan bisa saja hanya karena pertemuan satu atau dua kali, diperkenalkan oleh orang lain, kemudian sudah hanya sebatas itu. tidak ada hal yang membuat mereka bertemu kembali dalam kesempatan yang disengaja.

nah, apa hubungan antara ketiga jenis pengelompokkan di atas dengan ruang sosial?. jadi, jika kalian seorang teman, batasan yang mungkin ada diantara kalian adalah tidak adanya kata "halal" untuk mencampuri urusan teman kalian tersebut. mencampuri dalam hal masuk terlalu dalam ke kehidupan pribadi mereka, terlebih lagi yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan diri kalian sendiri.

beberapa orang yang hanya menganggapmu teman, biasanya akan bersikap acuh. bukan karena ia jahat, namun lebih karena ia tidak mau ruang sosial teman menjadi sempit. jika kalian menjadi semakin dekat, tentu akan ada beban sosial lebih, semisal menceritakan masalah pribadi, atau mendengarkan masalah pribadi anda sebagai temannya.

teman biasanya akan berubah menjadi teman dekat disebabkan beberapa hal. misalnya, lama waktu berteman, nyaman atau tidak berteman, nyambung atau tidak jika sedang mengobrol, dan kesamaan sifat atau hobi (misalnya bergosip, jika itu perempuan). saat dimana mereka mulai menceritakan tentang hal-hal pribadi, itu dimana mereka mulai menaruh kepercayaan lebih, dan akan menganggap kalian teman dekatnya (kadang disebut sahabat).

berbeda lagi jika kalian adalah pasangan. diambil contoh saja pasangan kekasih, karena aku belum menikah dan tidak memiliki cukup pengalaman disana. pasangan kekasih, bisa saja tercipta karena hubungan pertemanan biasa atau bahkan dari sahabat. mereka biasnya akan memiliki ruang sosial yang lebih sempit dan dekat lagi. jarang sekali menyimpan rahasia dari pasangannya. komunikasi juga terbilang lebih intens.

mereka biasanya tidak hanya berbagi hobi, namun juga cerita kehidupan pribadi, baik sedih ataupun cerita menyenangkan. kedekatan secara emosional dari keduanya juga lebih dekat dari pada teman. jika pada hubungan teman, jarak sosial dalam berinteraksi misalnya 50 cm, pada hubungan pasangan biasanya jarak tersebut akan dipersempit. mungkin karena tidak ada kata sungkan atau sudah merasa sangat dekat satu sama lainnya.

lain cerita jika kalian hanya terikat sebagai kenalan saja. hubungan tersebut sangat lemah secara emosional. bisa saja berubah, namun tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. kenal/sekadar kenalan tidak mempunyai beban sosial yang besar. kalian hanya bertemu beberapa kali, itupun tidak kalian rencanakan, karena bisa saja kalian saling kenal karena kantor kalian melakukan kerjasama dengan kantornya. atau, teman kalian adalah temannya. hanya sebatas itu saja.

jadi girls, kalau seseorang belum menceritakan masalah pribadinya kepada kalian, itu artinya mereka belum memberi kalian kepercayaan lebih. hal yang bisa kalian lakukan adalah bersikap layaknya teman biasa saja, tidak terlalu turut campur masalahanya, tidak ikut mengobrol ketika ia sedang mengobrol dengan temannya, dan tidak bersikap manja layaknya seoarang adik kecil yang membutuhkan kakaknya. untuk merubah teman menjadi teman dekat saja sudah sulit, apalagi dianggap adik oleh orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali.

aku sendiri termasuk orang yang kurang nyaman dengan ruang sosial yang terlalu sempit dengan teman baru. aku membutuhkan jarak yang mungkin bisa lebih dari 50 cm untukku agar nyaman mengobrol dengannya. bukan karena aku memilih untuk berteman dengan siapa (meskipun itu hakku), ini hanya karena aku membutuhkan yang namanya social space ketika aku berinteraksi. bisa juga karena aku tidak merasa sebegitu dekatnya dengan lawan bicaraku, sehingga aku membuat jarak tersebut.

sangat berbeda ketika aku duduk bersebelahan bahkan sangat dekat dengan teman satu jurusanku yang sudah kukenal lebih dari 6 tahun. aku akan nyaman-nyaman saja mengurangi jarak antara kami ketika sedang ngobrol, karena aku sudah jelas merasa nyaman dalam jarak tersebut. atau, lebih lagi jika aku duduk dalam jarak sangat dekat dengan pasanganku, aku akan nyaman-nyaman saja karena secara sosial kami sangat dekat.

orang yang bisa membuat ruang/jarak sosialku menyempit biasanya adalah orang yang sudah kukenal sejak lama, tentu tidak usah membicarakan orangtua dan saudara kandung, karena mereka adalah orang dengan jarak sosial paling tipis untukku. bisa saja itu teman satu jurusan di kampusku, teman organisasi, teman yang kukenal sejak lama, pacar, atau sahabat perempuan.

dan bukan rahasia pula jika setiap orang memutuskan untuk menjadikan seseorang teman dekatku. biasanya karena kesamaan hobi, cerita, atau kesamaan tempat tinggal (kost).

setiap orang memang memerlukan perlakuan yang berbeda-beda. perlakukanlah mereka sebagaimana anda ingin diperlakukan. itu manusiawi, hubungan secara timbal balik. jika anda ingin didengar, ya kalian harus mau mendengarkan. selamat berhubungan sosial girls, ingat ruang/space sosial seseorang berbeda, pandai-pandailah membacanya.

(ew)

Jumat, 21 November 2014

Kenangan Setitik, Rusak Move On Sebelanga


hai masyarakat. nah iya, ini jum'at, yang artinya weekend is coming. dan ini sudah jam 2 siang pas aku baru aja nyelesein kerjaan yang bikin nggak tidur nyenyak dari hari rabu. oke, mungkin berlebihan kalo nggak tidur nyenyak, anggep aja kepikiran gitu kali ya. ya, intinya selamat weekend lah ya. yang mau quality time sama keluarga, pacar, temen, gebetan, hewan piaraan, kasur, atau hp, silahkan loh ya (:p).

jadi, ceritanya ada temen yang tiba-tiba gagal move on karena harus nyemplung dadakan ke kolam harapan yang dulu pernah ada. dulu, air kolamnya jernih, ada tanaman penuh cinta, hijau, subur, dan warna-warni. tapi, itu dulu, sebelum negara api menyerang kolam tersebut.

kini, semua berubah. negara api yang diketuai oleh seorang perempuan, kita sebut saja Zia memporakporandakan kolam tersebut dan perkampungan disekitarnya.

oke, maaf kalo itu analogi yang berlebihan. tapi, kurang lebih begitulah ya. jadi, aku punya temen, anggap saja namanya Fira. cewek bernama Fira ini ceritanya lagi deket sama kakak kelasnya, sebut aja Denis deh ya. nah, Denis ini udah pernah nyatain perasaannya ke Fira, tapi emang sebatas menyatakan aja. karena Denis sadar Fira nggak bisa secepat itu jatuh cinta sama dia.

setelah deket (banget) kurang lebih lima bulanan, Fira mulai ngerasa ada yang lain yang dia rasain. ya, anggep aja sayang deh ya gitu. nah, Denis emang nggak berhenti nunjukin perhatian atau rasa sayangnya. Fira deh akhirnya mulai berani juga nunjukin perhatiannya. secara ceritanya kan udah mulai demen gitu sama Denis.

sampelah dimana akhirnya Denis ngutarain perasaannya buat kedua kalinya. tapi, dengan lebih serius. Denis pengen Fira jadi pendamping hidupnya. perempuan yang diajak susah bareng dan ngebangun rumah tangga bareng nantinya. Fira shock. semua diluar ekspektasinya. ya, setidaknya nggak secepat ini juga kali ya.

karena Fira yang mulai ngerasa nyaman dan punya perasaan sama Denis, akhirnya dia mengiyakan aja rencana-rencana masa depan Denis. well, meskipun sekarang ceritanya mereka nggak pake jadian-jadian, tapi kalo kata aku sih ya anggap saja mereka pacaran.

suatu ketika, disuatu siang yang cukup terik. Fira tiba-tiba mendapatkan pesan singkat dari orangtua lelaki yang dulu sempat mengisi hatinya. kita sebut saja Prima. kedua orangtua Prima yang sedang berkesempatan berkunjung ke kota dimana Prima atau Fira tinggal, ingin bertemu dengan Fira.

Fira panik. tidak siap. blank. campur aduk. meskipun akhirnya dia menemui juga kedua orangtua Prima. dengan alasan tidak sopan menolak permintaan orangtua, terlebih lagi dulu sempat sangat dekat. setelah ngobrol kesana kemari, ibunda Prima tiba-tiba berpesan kepada Fira untuk bersabar menghadapi Prima. dan memaklumi sikapnya yang sempat menyakiti Fira dulu.

sebenarnya kedua orangtua Prima sudah tahu bahwa anaknya dan Fira sudah tidak menjalin hubungan lagi. tapi, kedua orangtua Prima tidak bisa bohong bahwa mereka berharap Fira-lah perempuan yang nantinya menjadi menantu mereka.

sepulang dari pertemuan itu, Fira menghubungiku. cerita tuh anak jadi galau gitu. dia yang sedang berusaha move on dan berhasil menemukan Denis, malah terjebak dalam kondisi keluarga Prima yang belum mau melepaskannya dan ingin menyatukannya dengan Prima kembali. entah disebut apa ini.

usut punya usut, ternyata sejak berpisah dari Prima kurang lebih setahun lalu, Fira masih menyimpan rasa. masih memiliki setitik harapan bahwa suatu saat Prima akan kembali. terlebih lagi setelah mendapat perlakuan menyenangkand ari keluarga Prima. perempuan mana yang tidak ragu?. kalo ada, silahkan mention aku (:p).

yang membuat Fira bingung adalah, apakah iya dia bisa kembali masuk ke kehidupan Prima. ataukah iya benar dia sudah sepenuhnya move on dan memulai rencana baru dengan Denis. masih abu-abu. zonanya belum jelas masuk ke bagian mana.

mungkin ini yang disebut dengan :

"karena nila setitik, rusak susu sebelanga"

karena kenangan setitik tentang mangtan, malah justeru ngerusak move on yang sudah sekian lama dibangun.

sedikit aku ceritakan kenapa dulu hubungan Prima dan Fira berakhir ya. ada perempuan lain yang kusebut pemimpin negara api tadi, si Zia yang masuk ke kehidupan Prima. sebenernya bukan pemain baru. Zia itu sahabatnya Prima udah sejak lama. bahkan sebelum Prima jadi pacarnya Fira. ternyata, lama kelamaan si Zia ini mulai punya perasaan lebih dari sahabat.

disisi lain, Prima juga demikian. sudahlah, Prima memilih buat ninggalin FIra dan mulai hubungan BUKAN persahabatannya sama pemimpin negara api tersebut, yaitu si Zia itu.

dalam beberapa kesempatan emang Prima masih melibatkan Fira. contohnya undangan pementasan seni karyanya Prima, undangan seminar, atau rapat-rapat dalam organisasi mereka.

kalo aku secara pribadi, mungkin lebih milih Denis ya. 1. Prima udah punya Zia; 2. Denis jelas-jelas ada; 3. gimana perasaan Denis kalo tau itu semua.

tapi, setiap orang punya pertimbangan masing-masing sebelum memutuskan suatu hal. beda aku, beda Fira, beda juga kalian. so, pikirin aja sisi baik buat semuanya.

(ew).

Selasa, 18 November 2014

Mt. Gede, 2958 mdpl Dibalik Lensa

selamat hari rabu. selamat hari wisuda buat Widi, Venty, Rahmi, Ricky, kak Rahmi, dan seluruh civitas akademika IPB.

masih episode mt. Gede, kali ini bakal upload beberapa foto yang berhasil aku abadikan di balik lensaku. sebagian dari kamera hp, sebagian juga pake prosumerku. hope u like it guys :)

(trek menuju Surya Kencana)

(Alun-alun Surya Kencana)

(Edelweis dan Rintik Hujan di Alun-alun Surya Kencana)

(Sekumpulan Edelweis di Surya Kencana)

(Meranggas)

(selfie with Edelweis)

(wellcome to Top of Gede, 2958 mdpl)

(Kawah mt. Gede-1)

(Kawah mt. Gede-2)

(Kawah mt. Gede-3)

(Kawah mt. Gede-4)

(Kawah mt. Gede-5)

(Kawah mt. Gede-6)

(free?)

(when i see u mt Pangrango)

(Thinking)

(one of my best photo for this season)

well, itu beberapa hasil jepretan tangan kecilku. aku hanya ingin berbagi pengalamanku. apakah kalian juga ingin mengunjungi mt. Gede?. :)

(ew).