Senin, 12 Mei 2014

no price tag!

dear perempuan...

jika dia menyakitimu, kau tentu punya banyak alasan untuk pergi. meskipun tentu kau juga akan memiliki sejuta alasan untukmu tetap tinggal.oke mungkin bukan sejuta, tapi satu saja, cinta. iya, aku paham kalian perempuan, aku juga perempuan. namun, masihkah kamu akan tetap tinggal jika ada banyak sekali alasan yang dapat membuatmu pergi sementara hanya ada satu alasan untuk tinggal?

mau aku sebutkan beberapa contoh alasan kenapa kamu berhak pergi dan mendapatkan yang lebih baik? oke, ini beberapa saja ya :
1. dia suka selingkuh
2. dia suka selingkuh
3. dia suka selingkuh
4. dia kasar
5. dia tidak bisa memperlakukanmu dengan baik

cukup kan?

terkadang ada pula seorang lelaki yang setelah menyakiti perempuannya akan datang (tanpa ucapan maaf tentunya), hanya dengan sok seperti tidak terjadi apapun, membelikanmu barang-barang mahal, membawamu makan ke restoran terkenal, mengajakmu berlibur ke tempat eksotis yang juga mahal, gimana? mau?.

oke mungkin aku saja yang berbeda dengan kalian (not to mention somebody), tapi buatku hal tersebut bukannya akan lebih membuat lelaki tadi semakin senang menginjakmu ya?. mungkin kalimat jahatku begini, "ya kan udah aku beliin ini-itu, nggak apa-apa kali kalo aku selingkuh atau kasarin!".

percaya deh, kalian itu tidak ternilai.kecantikan paras dan hati kalian, kesantunan kata-kata, kesopanan kalian dalam bersikap, ketulusan kalian dalam menyayangi, atau sebuah senyuman semuanya tidak ada price tag-nya. ingat itu!. u deserve the better one!.

"nilai" kalian itu lebih dari sekadar voucher salon, tas branded, shopping card, atau atm yang digitnya bisa bikin mulut menganga. carilah lelaki yang bisa menghargai kalian bukan dengan apa yang telah mereka berikan, namun dari perhatian dan kasih sayangnya yang tulus, bukan harganya.

dan untuk para lelaki, ada banyak sekali orang menyenangkan di dunia ini, jilka kalian tidak dapat menemukan salah satunya, cobalah untuk menjadi salah satunya tersebut.

thanks dan maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini.
(ew).

Kamis, 24 April 2014

mbuh ngapa (?)

kenapa judulnya "mbuh ngapa?", emm..aku lagi keingetan sama hastag (#) milik sebuah akun twitter bernama Daplun (@NgomongNgapak). nah hastagnya itu #MbuhNgapa. itu hastag khusus yang dia buat kalau ada kejadian tragis yang sedang dia pertanyakan. kadang dia mempertanyakan ini itu juga sih.

jadi gini ceritanya..

pagi ini berangkat kerja bareng sama teman. tiba-tiba dia nyeletuk.. 
R : aku bete, kemarin adiknya mantan aku upload foto abangnya lagi fitting baju pengantin sama pacarnya
aku : lah bukannya kamu udah punya pacar ya?
R : emm..tapi tetep aja ngerasa gimana gitu. aku sama dia lama, eh nikahnya sama yang lain. iya sih aku punya pacar, tapi kan..

selesai, kalimat menggantung di sana. aku cuma manggut-manggut saja.

masih di hari yang sama, temanku M, mengirimkan wasap :
M : aku mimpi si Y kirimin aku undangan kawinan dia sama ceweknya. rasanya kok masih nggak rela ya.
aku : lah kamu kan punya pacar?
M : iya, cuman gimana aja gitu rasanaya

selesai juga segitu aja ceritanya si M. dia sama pacarnya yang sekarang kalau nggak salah udah pacaran lebih dari 3 tahun deh. cuman, ya nggak tau deh ya (hihihii).

nah..apa hubungannya sama hastag #MbuhNgapa, ini dia :
padahal dewene wes duwe pacar anyar, tp weruh mantane fitting klambi manten ato dikirimi undangan be langsung pada galau  

hahaha itu twittanku setelah mendengar cerita dari dua wanita di atas. kalau aku gimana nanti? kebetulan belum pernah di tinggal nikah sama mangtan, haha *ketawa sombong*. ya namanya juga cewek ya, mungkin dia kesal, pacaran lama-lama tapi mantannya nikahnya sama yang lainnya yang di kenal baru berapa bulan. atau, mungkin masih cinta, terus pacarnya yang sekarang apa kabar? lah..ya meneketehe meeenn, tanya sendiri sanah :p

Selasa, 22 April 2014

warning : people(s) judge u from what u looks like!!

pasti sudah tidak asing dengan ungkapan "jangan menilai buku dari sampulnya"?. ungkapan itu sangat-sangat populer, ya tapi ndak apa-apa kalau memang kalian belum pernah dengar kok, dimaafkan (:p).

dari ungkapan di atas jelas sekali kalau kita tidak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja. kita harus membuka lembar demi lembar, membaca kata per kata, meresapi setiap kalimat, baru kita akan tau isi dari buku tersebut.

ungkapan "jangan menilai buku dari sampulnya" juga sering di kaitkan dengan kepribadiaan seseorang. memanfaatkan kalimat tersebut untuk menyampaikan bahwa "jangan menilai orang dari sampul luarnya saja", begitu kira-kira maksudnya.

tetapi, karena buku adalah sebuah benda sementara orang adalah makhluk hidup, muncul pula kendala dalam mengaplikasikan ungkapan tersebut. jika pada buku, seperti yang sudah aku sebutkan di atas, di baca agar kenal apa isinya. bisa pinjam dari perpustakaan, bisa beli langsung ke toko buku, atau sewa.

nah..kalau orang? akan sangat tidak mungkin mau meminjamnya agar kita bisa mengenalnya kan? atau mana ada orang yang bersedia kita beli terus di bawa pulang, atau di sewa, tidak ada. jadi, bagaimana selanjutnya?

seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, penilaian seseorang terhadap orang lainnya juga (selalu) muncul ketika pertama kali bertemu. misalnya saja, tiba-tiba kalian menyebut seorang bapak yang sedang memarahi anaknya dengan sebutan orangtua kejam ketika kalian tidak sengaja lewat depan rumahnya. atau, mencap seorang ibu galak hanya karena saat bertemu dengannya, sang ibu sedang berteriak kepada sopir taksi.

kesan pertama muncul tanpa di sengaja, namun pasti akan membekas. kalian bisa saja akan cenderung menceritakan kejadian tersebut kepada teman kalian dan dengan yakin mengatakan bahwa orang-orang tadi jahat.

bisa saja bapak tadi marah kepada anaknya karena anaknya mencuri uangnya untuk membeli rokok. kemarahannya untuk mengajari anaknya bahwa mencuri adalah hal yang salah. atau sang ibu tadi, bisa saja dia sedang terburu-buru, namun sopir taksi tadi mengantarkannya ke alamat yang salah, dan justru menurunkannya bukan mengantarkan ke alamat seharusnya.

terkadang penilaian seseorang (judgement) muncul setelah kalian berinteraksi dengan mereka dalam waktu lama. meskipun beberapa orang tidak bermaksud membuat orang lain menilainya, tidak ada yang ingin di nilai (kurasa).

ada beberapa hal yang menurutku pribadi mempengaruhi penilaian seseorang terhadap orang lain, yaitu :

1. penampilan. jangan keluar rumah dengan mengenakan pakaian pantai jika kau tidak sedang di pantai, jika kau tidak mau di nilai salah kostum atau perempuan aneh. jangan memakai pakaian dengan bahan yang belum selesai di jahit, sepotong, minim, atau robek di sana-sini, jika kau tidak ingin di nilai sebagai bukan perempuan "baik-baik".

2. "pembawaan". jangan setiap mau makan siang perginya ke hanamasa, solaria, sushi tei, steik house, atau numpang makan malem di hotel bintang 5 kalau tidak "rela" di sebut orang berada. atau jangan gegayaan pake tas channel atau louis vittone biar di anggap sosialita.

3. kepribadian. pribadi yang setiap hari ngomel-ngomel tidak jelas, ke tukang angkot yang lewat, ke tukang ojeg yang tidak memberikan uang kembalian dengan pas, atau ke ibu-ibu pedagang buah yang ternyata buah yang kau beli rusak, tentu akan di nilai sebagai "tukang ngomel" atau "anti toleransi" kan?. beda kasus jika ternyata kau adalah pribadi yang murah senyum, tentu kau akan di nilai orang sebagai seseorang yang menyenangkan.

tapi, semua itu tergantung pilihan. ada beberapa orang yang memang dengan sengaja memoles penampilannya, atau menunjukkan pembawaan layaknya milyader yang judes. di kondisi lain, malah ada yang tidak sengaja atau tidak bermaksud menunjukkannya kepada khalayak ramai. ia hanya tidak menyadari bahwa ternyata sikapnya membuat orang menilainya "salah" atau "tidak baik" atau "tukang pamer" atau "pengomel", dan lain sebagainya.

semua kembali ke pilihan kalian. jika kau peduli dengan penilaian mereka tentunya. yang ku maksud dengan peduli dengan penilaian orang adalah jika kau ingin "di nilai baik" (bukan palsu), jadi saja dirimu sendiri, namun dengan versi yang lebih "ramah lingkungan". tapi, jika kau tidak perduli tentang penilaian orang tentangmu, silahkan lakukan apa yang membuatmu menyenangkan dan benar. (ew).

Senin, 21 April 2014

jodoh itu unik.



dari hati yang paling dalam, kuucapkan selamat kepada teman terdekatku, Miko. Tentu dia bukan pemeran di Malam Minggu Miko dan tentu saja itu bukan nama aslinya. hehe..agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, maka nama tokoh dan tempat kejadian akan saya samarkan.

beberapa waktu lalu, mungkin seminggu yang lalu, tiba-tiba Miko mengirimiku pesan singkat via Wasap, ingin bercerita, ujarnya. kuladeni saja, seperti biasa, kutanyakan ada apa. berikut kurang lebih obrolanku dengannya :

aku : ada apa?
Miko : aku mau cerita, tapi malu
aku : karena?
Miko : besok aja deh ceritanya, sekarang aku belum siap
aku : oke
(end of conversation)

keesokan harinya, karena aku penasaran, inisiatif aku mengiriminya Wasap singkat.

aku : jadi, kemaren mau cerita apa?
Miko : emm..janji jangan di ketawain ya
aku : oke (biar cepet aja, haha)
Miko : aku kemaren di kasih beberapa lembar foto perempuan, beserta namanya. aku mau di jodohkan. kemudian aku tertarik dengan sebuah nama. namanya bagus sekali (klemudian dia menyebutkan sebuah nama).
aku : terus?
Miko : besok aku sama Om-ku mau bertamu ke rumahnya
aku : waaww..cepat sekali. good luck ya..!
Miko : oke, aku gugup, besok stand by ya.
aku : sippoo..

hari yang di katakan oleh Miko tiba. ia bersama Om-nya berangkat mengunjungi rumah sang gadis, kita sebut saja Inda. aku yang pada dasarnya berjiwa kepo ini penasaran sekali dengan hasil pertemuannya, tapi aku mencoba bersabar menanti Miko menghubungiku terlebih dahulu (lebay).

Pada malam harinya, Miko mengirimiku Wasap.
Miko : bertamu jam 1, jam 2 kami di tinggalkan berdua, kami mengobrol kurang lebih 3 jam
aku : (shock) waw..lama juga ya. jadi, gimana?
Miko : aku tadi gugup, lebih banyak dia yang mencari bahan obrolan
aku : wajar, aku juga pasti bakal gitu
Miko : besok ibuk ke rumahnya, "melamar"
aku : huwooowww..cepat sekaleeee..
Miko : iya..

aku ikut-ikutan deg-deggan menanti hasil pertemuan orangtua Miko dan Inda. terus saja kurusuhi Miko dengan Wasapku, memastikan apa yang terjadi selanjutnya. dua hari tanpa kabar dari Miko, aku menjadi gundah (hahaha..).

Miko : Inda menerima lamaran ibuku
aku : Thanks God, iam happy for you
Miko : makasih
aku : jadi kapan?
Miko : masih perlu di obrolkan lebih lanjut sih, hehe
aku : sekali lagi selamat ya, akhirnya kau menemukan jodohmu dari hasil perjodohan
Miko : iya..

sebelum-sebelumnya Miko pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin menikah, namun tidak memiliki calon. di sisi lain, ia tidak yakin dengan kualitas dirinya. hemm..hal yang tentu pernah atau sedang di rasakan setiap orang, ketidakpercayaan diri. hal biasa bukan?

ibu Miko yang merasa sudah saatnya anaknya menikah, mengambil inisiatif dengan mengajukan beberap calon pendamping untuknya. beberapa nama yang di sodorkan, kenapa tertarik dengan Inda? karena namanya indah. memang aneh, jatuh cinta pertama kepada sebuah nama.

kali ini, aku benar-benar senang ia akhirnya menemukan jodohnya. pernikahan mereka di rencanakan akan di langsungkan kurang lebih empat bulan mendatang. jodoh memang unik. tidak tentu kapan datangnya, bagaimana caranya, dari mana asalnya, dan siapa dia.

kuberikan rasa simpatiku yang paling tinggi untuk kalian yang percaya akan jodoh. menyerahkan segala sesuatu yang berbau jodoh kepada Tuhan. atau melalui tangan orangtuanya.

(ew).

(surat cinta)

dear Sayang,

aku memang sudah nggak berani buat SMS atau Whatsapp kamu lagi, jadi aku putuskan buat memanfaatkan email. bolehkan aku tanya, kamu kenapa? kalo aku ada salah, tolong ingetin aku ya, dan yang harus kamu ingat kalau aku ini bukan peramal Sayang. karena aku cuma seorang perempuan biasa ini, bukan peramal juga, oleh karena itu aku nggak bisa baca pikiran kamu. kalau memang aku membosankan, kamu bilang aja. kalau sikap aku membuat kamu jenuh, kasih tau aja. kalau aku membuat kamu nggak nyaman, sampaikan aja, aku akan belajar terima itu nanti, meskipun pasti awalnya susah. aku bukannya nggak sabaran nunggu nanya ini ke kamu setelah kamu sampai Bogor nanti, aku cuma nggak mau menyelesaikan sesuatunya di-nanti-nantikan atau ditunda. maafin aku ya kalau aku salah. you need a time? i'll give u as much as you need,  sampai ketemu lain waktu, aku sayang kamu.

with lot of love,
pacar kamu, ...

Senin, 14 April 2014

negara anti mainstream

kalau di negara maju, ya sebut saja mungkin Amerika, Korea, dan negara lainnya, pejalan kaki itu mendapat prioritas utama. mereka di buatkan area pedestrian khusus, yang biasanya di buat hampir sama lebarnya dengan jalan raya. hal tersebut di harapkan dapat memberikan kenyamanan untuk warga negara mereka yang memilih kemana-mana untuk berjalan kaki atau bersepeda.

di negaraku yang sangat kucintai ini, yang sudah kutinggali seumur hidupku, 24 tahun lebih, ada yang berbeda. anggap saja perbedaan tersebut sedikit saja, tidak terlalu mencoloklah, anggap saja begitu. para pejalan kaki tidak memiliki area pedestrian. kalau aku boleh menyebutkan beberapa kemungkinan yang masuk akal buatku nih ya, kurang lebih mungkin karena hal-hal di bawah berikut :
  1. lahan di negaraku ini sangat sempit.
  2. lahan tersebut di manfaatkan untuk hal yang lebih bermaanfaat ketimbang sekadar di jadikan sebagai area pedestrian.
  3. contoh manfaat lahat tersebut adalah : trotoar yang di jadikan sebagai tempat berjualan para pedagang. nah hal tersebut tentu akan lebih bermanfaat dong ya? secara semua orang memang membutuhkan makanan. ya kan? (sudah jawab saja : IYA).
  4. trotoarpun bisa di manfaatkan sebagai tempat parkir motor. nah..mengacu pada nomer satu itu loh, lahan di negaraku ini sempit, jadi kekurangan tempat parkir, harap maklum ya.
  5. pejalan kaki iti tidak ada harganya. ingat, motor itu minimal harganya adalah 13 juta kan (kalau baru), nah kamu, iya itu kamu yang sukanya kemana-mana jalan kaki, berapa hargamu? (*kemudian di timpuk bakiak), hehe.
well..kurang lebih ya itu deh ya sebab-sebab di negaraku ini sediki berbeda dengan negara maju lainnya. maklum, negara aku kan ceritanya masih berkembang, belum maju. emm..berhubung menyediakan pedestrian yang layak bagi pejalan kaki itu sudah terlalu mainstream,negaraku kan anti mainstream. yeaahh..bangga dong ya(?)

ya kalau kata aku gini : kalau aku naik sepeda, jadi aku g punya hak gitu menikmati jalan raya? atau karena aku jalan kaki, aku nggak ada harganya gitu? nah..salah satu sikap anti mainstream yang bisa kalian lakukan adalah, dengan menjawabnya dengan mengatakan : IYA!. :p

(ew).